Mixue sepi pengunjung

Dari ‘Malaikat Pencabut Ruko Kosong’ hingga Sepi Pengunjung: Perjalanan Mixue di Indonesia

Mixue, merek es krim dan minuman asal Tiongkok, telah menjadi fenomena di Indonesia. Dengan strategi ekspansi agresif, Mixue berhasil mengisi banyak ruko kosong di berbagai kota, sehingga mendapat julukan ‘Malaikat Pencabut Ruko Kosong’ dari warganet. Namun, belakangan ini, beberapa gerai Mixue tampak mengalami penurunan jumlah pengunjung. Artikel ini akan mengulas perjalanan Mixue di Indonesia, faktor-faktor yang mempengaruhi popularitasnya, dan tantangan yang dihadapinya saat ini.​

Sejarah dan Ekspansi Mixue di Indonesia

Mixue didirikan pada tahun 1997 di Zhengzhou, Tiongkok. Merek ini mulai memasuki pasar Indonesia pada tahun 2020 dengan membuka gerai pertamanya di Cihampelas Walk, Bandung. Dalam waktu singkat, Mixue berhasil membuka banyak gerai di berbagai kota, mengisi ruko-ruko kosong yang sebelumnya tidak terpakai. Fenomena ini membuat Mixue mendapat julukan ‘Malaikat Pencabut Ruko Kosong’ dari warganet. ​

Alasan Popularitas Mixue

Beberapa faktor yang mendorong popularitas Mixue di Indonesia antara lain:

1. Harga Terjangkau: Mixue menawarkan produk es krim dan minuman dengan harga yang ramah di kantong, menarik bagi berbagai kalangan masyarakat.​

2. Rasa yang Disukai: Produk Mixue dikenal memiliki rasa yang enak, sesuai dengan selera konsumen Indonesia.​

3. Ekspansi Agresif: Strategi pembukaan gerai di lokasi-lokasi strategis, terutama ruko kosong, meningkatkan visibilitas dan aksesibilitas merek ini. ​

    Tantangan dan Penurunan Pengunjung

    Meskipun awalnya sukses, beberapa gerai Mixue kini mengalami penurunan jumlah pengunjung. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi penurunan ini meliputi:

    1. Persaingan Internal: Banyaknya gerai Mixue yang berdekatan satu sama lain menyebabkan persaingan antar gerai sendiri, yang dikenal sebagai ‘kanibalisasi penjualan’. Hal ini membuat pendapatan per gerai menurun. ​

    2. Kejenuhan Pasar: Ekspansi yang terlalu cepat tanpa inovasi produk yang signifikan dapat menyebabkan kejenuhan di kalangan konsumen. Mereka mungkin merasa bosan dengan pilihan yang itu-itu saja. ​

    3. Persaingan dengan Merek Lain: Munculnya merek-merek baru dengan konsep serupa, seperti Tomoro Coffee, yang menawarkan variasi produk dan strategi pemasaran yang berbeda, memberikan tantangan tambahan bagi Mixue. ​

      Strategi Menghadapi Tantangan

      Untuk mengatasi penurunan pengunjung, Mixue dapat mempertimbangkan beberapa strategi berikut:

      1. Diversifikasi Produk: Menambahkan variasi menu atau produk musiman dapat menarik kembali minat konsumen dan mencegah kejenuhan.​

      2. Inovasi Pemasaran: Menggunakan strategi pemasaran kreatif, seperti promosi khusus, program loyalitas, atau kolaborasi dengan merek lain, dapat meningkatkan daya tarik gerai.​

      3. Evaluasi Lokasi Gerai: Meninjau kembali lokasi pembukaan gerai untuk menghindari kanibalisasi penjualan dan memastikan setiap gerai memiliki potensi pasar yang optimal.​

        Kesimpulan

        Perjalanan Mixue di Indonesia menunjukkan bagaimana strategi ekspansi agresif dapat membawa kesuksesan sekaligus tantangan. Dari julukan ‘Malaikat Pencabut Ruko Kosong’ hingga menghadapi penurunan pengunjung, Mixue perlu terus beradaptasi dan berinovasi untuk mempertahankan posisinya di pasar yang kompetitif.​

        )*Artikel ini mencerminkan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili sikap resmi instansi tempat penulis bekerja.

        Layanan Hive Five

        HIVE FIVE

        PROMO

        Testimoni

        Virtual Office

        LIHAT LOKASI-LOKASI KANTOR VIRTUAL OFFICE